Wah.. baru pertama kali seumur hidup saya berada di pemilihan penjurusan. Yah, saya sedikit kecewa karena saya tidak bisa masuk IPA, yah.. padahal itu adalah jurusan yang saya inginkan dari dulu. Akan tetapi, mau berbuat bagaimana lagi, Jurusan telah ditentukan oleh “dewan guru” bukan saya. huhu… sedih juga.. Takutnya saya agak kesepian di kelas IPS, dikarenakan teman saya lebih banyak berada di kelas IPA. Hmm.. tapi tidak apa-apa lah, saya bisa memakluminya. *Tetap bersedih*
Hm.. saya sedikit kesal terhadap sistem pembelajaran yang ada di Indonesia. Sering berubah dan kadang kurikulumnya terlalu mengada-ada.Perbedaan sistem kurikulum hanya tipis. Seperti halnya kurikulum beberapa tahun ini yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bedanya cuma dikit. Cuma bikin nama kurikulum supaya lebih keren dibandingkan sebelumnya. Saat Kurikulum 2004, pembagian nilai sudah lebih pesifik, dan sudah lebih “ke pelajar”nya .Lalu saat kurikulum 2006, yang diganti beberapa sitem yang tidak tampak menonjol perbedaanya dan murid-murid dikagetkan dengan perbedaan nama, yakni murid dikatakan sebagai peserta didik, sedangkan guru diganti dengan pendamping (lupa saya.. hehe). Bikin ribet dan bikin pusing orang tua ketika melihat nilai yang lebih banyak daripada sebelumnya. Memang bagus sih, dipisah-pisah menurut aspek yang dituntut, akan tetapi apakah bagus dirubah-rubah mulu sistem kurikulumnya?
Dan yang paling saya kesalkan , kenapa hanya ada jurusan IPA IPS dan bahasa ? Kenapa pemerintah tidak membuat jurusan lebih dari 3? misalkan ditambah jurusan ICT, seni , atau apalah, sehingga pelajar dapat diberi kesempatan untuk lebih konsen terhadap bidang yang ia kehendaki.
Dikarenakan hanya ada 3 jurusan yang “eksis” , Hampir saat ini, di masyarakat pada umumnya, sering membanding-bandingkan kualitas dari tiga jurusan itu. Dan dari tiga jurusan itu terkadang menjadi dewa, yakni IPA. Masyarakat pada umumnya sering men”dewa”kan jurusan ini, dan terkadang, guru-guru juga turut men”dewa”kan jurusan IPA. Yah.. tetapi, beda sih dengan guru SMP saya. Ada satu guru bahasa di SMP saya yang sangat menyemangati murid-murid nya untuk masuk jurusan bahasa. Ia membeberkan segala keuntungan ketika bekerja nanti. Saya hanya diam dan mendengarkannya dengan baik. Pelajar baik gituu.. hehe
back to topic.
Karena sifat men”dewa”kan itu, banyak masyarakat me-labeling pelajar non-IPA menjadi pelajar yang tidak “istimewa”. Hmm, mungkin ini diakibatkan dari kebijakan pemerintah ORLA yang masih membekas dalam memori masyarakat dan menjadi konsumsi keturunan *kali*.
Selain itu, pemilihan jurusan membuat kesempatan untuk meraih mata kuliah yang diinginkan terbatas. Saya malah langsung berpikir kalau lebih baik tidak usah diadakan jurusan. hmm..
hhu.. bukan saya tidak mendukung pemerintah, akan tetapi mbok ya lebih dibikin spesifik gtu, sehingga pelajar lebih mudah menyerap pelajaran gtu. Dan kalau bisa dampak labeling yang ada di masyarakat di turunin.
hhu..
sekian.
(kata dari pelajar yang keki ngeliat pembagian jurusan yang cuma ada 3!!!!!)
Susah sih ngilangin labelling itu. soalnya pola pikir orang indo hampir smua sama…
pdahal klo dipikir2,, banyak orang2 ips/bahasa yang justru lebih kreatif dr orang ipa.
kebanyakan juga orang nyari gengsi doang milih ipa..trus keteteran sndiri karena ternyata pelajaran ipa terlalu susah…
mendingan pilihlah jurusan yg kau sukai, jangan ikut2an, jangan terpengaruh masyarakat. karena sesusah apa pun kalo udah suka, pasti dijabanin aja. daripada menderita karena ada di jurusan yang gak dipengenin?
masuk ipa ga selamanya enak loh